Senin, 26 Januari 2026

Dari Gizi Menuju Jati Diri: Mengulik Buku Seri Pangan Nusantara karya Ahmad Arif

 


Seandainya kita bisa kembali ke masa lalu, akankah kita akan tetap bergantung pada beras sebagai satu-satunya sumber karbohidrat? Barangkali saat itu, kita akan terkejut dengan ragam pangan yang dikonsumsi oleh nenek moyang kita. Apalagi saat kita menyadari kalau beras hanya satu dari ragam pangan yang dikonsumsi di zaman dulu.

Melalui Buku Seri Pangan Nusantara, Ahmad Arif mengajak kita kembali menelusuri rekam jejak pangan lokal yang kini terlupakan. Ragam pangan lokal yang tak hanya mengandung gizi seimbang, tapi juga menjadi identitas dari jati diri kita di masa lalu. Pangan tak hanya tentang apa yang kita makan, tapi juga yang membentuk diri kita.

Sekilas tentang Ahmad Arif

Ahmad Arif adalah seorang jurnalis yang telah bekerja di harian Kompas sejak 2003. Ia fokus pada isu sains dan lingkungan hidup ini, mendapatkan sejumlah fellowship dalam jurnalisme. Beberapa penghargaan penulisan didapatkannya, salah satunya Mochtar Lubis Award. Buku Seri Pangan Nusantara merupakan hasil risetnya yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir.

Sagu Papua untuk Dunia

Buku ini menjadi pembuka dari Seri Pangan Nusantara yang diterbitkan 2019 lalu. Buku berjumlah 208 halaman ini menyoroti kehidupan pohon sagu sebagai salah satu pangan tertua yang dikonsumsi oleh manusia. Selain memaparkan asal-usul sebaran sagu, tetapi juga jejak budaya yang tumbuh bersamanya.

Sagu kerap diidentikkan dengan wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Namun, dalam penelusuran Penulis, sagu dahulu dikonsumsi hampir sebagian besar wilayah Indonesia di masa lalu. Sayangnya, gastrokolonialisme perlahan-lahan menggeser sagu sebagai salah satu karbohidrat selain nasi terpinggirkan. Kebijakan yang bias beras, hingga konversi lahan yang terus terjadi tak hanya menghilangkan hutan sagu, tapi juga akses terhadap pangan lokal.

Buku yang secara gamblang memaparkan sagu bukan hanya sebatas pangan lokal, tapi juga menjadi solusi sumber karbohidrat selain nasi dengan nutrisi yang setara dengan beras. Bahkan dari segi pengelolahan, hutan sagu lebih ramah lingkungan.

Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan

Buku yang diterbitkan 2020 ini memotret secara mendalam tentang sorgum, salah satu tanaman serealia yang kini telah bangkit sebagai pangan alternatif di kawasan Nusa Tenggara Timur. Sorgum menjadi tanaman serbaguna sekaligus bisa tumbuh di lahan panas dan kering yang belum tentu cocok untuk menanam padi.

FYI, seperti buku sebelumnya, buku ini berisi pelacakan asal-usul sorgum hingga informasinya sebagai salah satu tanaman paling awal yang didomestifikasi oleh manusia. Kehadiran sorgum di sebagai ragam pangan lokal yang dikonsumsi pun diperkuat dengan adanya relief di Candi Borobudur dan disebutkan dalam Serat Centhini, walaupun dengan penyebutan nama yang berbeda.

Melalui buku ini, kita tersadarkan bahwa bahaya penyeragaman pangan dengan hanya bergantung pada beras, bisa meruntuhkan kedaulatan pangan masyarakat yang berbasis pangan lokal. Hal ini menjadi catatan penting, karena tak semua tanaman pangan bisa tumbuh beradaptasi dengan wilayah tertentu.

Penulis mengingatkan kita bahwa hilangnya keragaman pangan juga bisa berpengaruh pada akses pangan yang berkualitas. Sorgum menjadi pangan alternatif, bukan hanya karena adaptasinya, tapi juga nutrisi yang terkandung di dalamnya. Terlebih penting, secara ekonomi sorgum lebih terjangkau daripada beras.

Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan


Buku yang berjumlah 308 halaman ini diterbitkan pada 2021. Bila dua buku sebelumnya menyoroti dua pangan lokal di Indonesia, buku ini sebaliknya menuturkan masyarakat adat dan kiprahnya dalam menjaga kedaulatan pangan.

Buku ini memberi kita ruang untuk memahami masyarakat adat secara lebih utuh. Di sisi lain, mereka memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman hayati, sehingga bisa berdaulat dengan sistem pangan yang khas. Sayangnya, perlahan masyarakat adat rentan mengalami peminggiran, karena perampasan wilayah adat dengan adanya pembentukan hutan negara, hingga lahan yang dikonversi untuk Perkebunan sawit.

Ini tak hanya mengancam masyarakat adat, tapi juga ancaman serius terhadap kedaulatan pangan. Sebab, akses pangan yang sulit diakses bisa berdampak langsung pada tingginya malnutrisi bagi anggota komunitas masyarakat adat.

Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara

Sukun bukan nama yang asing bagi sebagian besar orang. Sukun (Artocarpus altilis) merupakan pangan asli Nusantara yang telah lebih dulu didomestifikasi sebelum padi dibawa ke negeri ini. Eksistensi sukun di masa lalu telah banyak mencuri perhatian, bukan hanya karena mudah tumbuh, tapi dari segi rasa dan gizi bisa memenuhi kebutuhan harian tubuh.

Melalui buku yang diterbitkan 2025 ini, kita akan menelusuri kiprah sukun sebagai pangan lokal sekaligus meneguhkan kemandirian pangan nenek moyang kita di masa silam. Sukun bukan untuk menggeser beras, tapi menjadi refleksi bahwa gastrokolonialisme secara serius telah mengancam isi piring kita yang dulu beragam menjadi seragam.

Sebagaimana ungkapan penulis, “Kita bukan hanya apa yang kita makan, tapi apa yang dimakan leluhur kita.” Memanggil pulang sukun bukan hanya seruan, tapi juga langkah nyata kita untuk mempertanyakan telah sejauh mana kita meninggalkan ragam pangan lokal yang terpinggirkan karena dianggap sebagai simbol kemandekan dan ketertinggalan.

Padahal, seharusnya kita harus merekontruksi ulang makanan pokok tak hanya sebatas nasi. Penulis menyebutkan bahwa makanan pokok bukan hanya soal nutrisi, tapi juga kebiasaan makan. Terlebih, ketersediaan akses pada pengelolahan serta dan penyajiannya. Sukun menjadi salah satu pangan lokal yang harus dilirik, bukan hanya karena kadar Indeks Glikemik yang rendah dan kaya nutrisi.

Buku ini memaparkan alasan dibalik Sukun tak hanya menjadi pangan alternatif di tengah situasi perubahan iklim. Berbagai penelitian telah menunjukkan pohon sukun bisa beradaptasi dan tumbuh di suhu tertentu. Selain itu, pohon sukun minim penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang bisa merusak tanah. Ia menjadi salah satu pangan lokal dalam menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan.

Buku Seri Pangan Nusantara menegaskan pangan lokal merupakan jalan utama menuju kedaulatan pangan. Sebab, masyarakat memiliki akses terhadap pangan lokal, ramah lingkungan, dan terjangkau di pasar lokal. Buku seri ini memberikan perspektif untuk melihat kekayaan ragam pangan lokal yang dulu menjadi penopang nenek moyang, sebelum digerus gastrokolonialisme.

Kumpulan buku ini wajib dibaca oleh Sobat Buku, sudahkah membacanya? Yuk, bagikan pengalaman Sobat Buku di kolom komentar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar