Seandainya
kita bisa kembali ke masa lalu, akankah kita akan tetap bergantung pada beras
sebagai satu-satunya sumber karbohidrat? Barangkali saat itu, kita akan terkejut
dengan ragam pangan yang dikonsumsi oleh nenek moyang kita. Apalagi saat kita
menyadari kalau beras hanya satu dari ragam pangan yang dikonsumsi di zaman
dulu.
Melalui Buku Seri Pangan Nusantara, Ahmad Arif mengajak kita kembali menelusuri rekam jejak pangan lokal yang kini terlupakan. Ragam pangan lokal yang tak hanya mengandung gizi seimbang, tapi juga menjadi identitas dari jati diri kita di masa lalu. Pangan tak hanya tentang apa yang kita makan, tapi juga yang membentuk diri kita.
Sekilas
tentang Ahmad Arif
Ahmad Arif adalah seorang jurnalis yang telah bekerja di harian Kompas sejak 2003. Ia fokus pada isu sains dan lingkungan hidup ini, mendapatkan sejumlah fellowship dalam jurnalisme. Beberapa penghargaan penulisan didapatkannya, salah satunya Mochtar Lubis Award. Buku Seri Pangan Nusantara merupakan hasil risetnya yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir.
Sagu
Papua untuk Dunia
Buku
ini menjadi pembuka dari Seri Pangan Nusantara yang diterbitkan 2019 lalu. Buku
berjumlah 208 halaman ini menyoroti kehidupan pohon sagu sebagai salah satu
pangan tertua yang dikonsumsi oleh manusia. Selain memaparkan asal-usul sebaran
sagu, tetapi juga jejak budaya yang tumbuh bersamanya.
Sagu
kerap diidentikkan dengan wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Namun,
dalam penelusuran Penulis, sagu dahulu dikonsumsi hampir sebagian besar wilayah
Indonesia di masa lalu. Sayangnya, gastrokolonialisme perlahan-lahan menggeser
sagu sebagai salah satu karbohidrat selain nasi terpinggirkan. Kebijakan yang
bias beras, hingga konversi lahan yang terus terjadi tak hanya menghilangkan
hutan sagu, tapi juga akses terhadap pangan lokal.
Buku yang secara gamblang memaparkan sagu bukan hanya sebatas pangan lokal, tapi juga menjadi solusi sumber karbohidrat selain nasi dengan nutrisi yang setara dengan beras. Bahkan dari segi pengelolahan, hutan sagu lebih ramah lingkungan.
Sorgum:
Benih Leluhur untuk Masa Depan
Buku
yang diterbitkan 2020 ini memotret secara mendalam tentang sorgum, salah satu
tanaman serealia yang kini telah bangkit sebagai pangan alternatif di kawasan
Nusa Tenggara Timur. Sorgum menjadi tanaman serbaguna sekaligus bisa tumbuh di
lahan panas dan kering yang belum tentu cocok untuk menanam padi.
FYI,
seperti buku sebelumnya, buku ini berisi pelacakan asal-usul sorgum hingga
informasinya sebagai salah satu tanaman paling awal yang didomestifikasi oleh
manusia. Kehadiran sorgum di sebagai ragam pangan lokal yang dikonsumsi pun
diperkuat dengan adanya relief di Candi Borobudur dan disebutkan dalam Serat
Centhini, walaupun dengan penyebutan nama yang berbeda.
Melalui
buku ini, kita tersadarkan bahwa bahaya penyeragaman pangan dengan hanya
bergantung pada beras, bisa meruntuhkan kedaulatan pangan masyarakat yang berbasis
pangan lokal. Hal ini menjadi catatan penting, karena tak semua tanaman pangan bisa
tumbuh beradaptasi dengan wilayah tertentu.
Penulis mengingatkan kita bahwa hilangnya keragaman pangan juga bisa berpengaruh pada akses pangan yang berkualitas. Sorgum menjadi pangan alternatif, bukan hanya karena adaptasinya, tapi juga nutrisi yang terkandung di dalamnya. Terlebih penting, secara ekonomi sorgum lebih terjangkau daripada beras.
Masyarakat
Adat & Kedaulatan Pangan
Buku
yang berjumlah 308 halaman ini diterbitkan pada 2021. Bila dua buku sebelumnya
menyoroti dua pangan lokal di Indonesia, buku ini sebaliknya menuturkan
masyarakat adat dan kiprahnya dalam menjaga kedaulatan pangan.
Buku
ini memberi kita ruang untuk memahami masyarakat adat secara lebih utuh. Di
sisi lain, mereka memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman hayati,
sehingga bisa berdaulat dengan sistem pangan yang khas. Sayangnya, perlahan
masyarakat adat rentan mengalami peminggiran, karena perampasan wilayah adat
dengan adanya pembentukan hutan negara, hingga lahan yang dikonversi untuk
Perkebunan sawit.
Ini tak hanya mengancam masyarakat adat, tapi juga ancaman serius terhadap kedaulatan pangan. Sebab, akses pangan yang sulit diakses bisa berdampak langsung pada tingginya malnutrisi bagi anggota komunitas masyarakat adat.
Buah Leluhur
dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara
Sukun bukan nama yang asing bagi sebagian besar orang. Sukun (Artocarpus altilis) merupakan pangan asli Nusantara yang telah lebih dulu didomestifikasi sebelum padi dibawa ke negeri ini. Eksistensi sukun di masa lalu telah banyak mencuri perhatian, bukan hanya karena mudah tumbuh, tapi dari segi rasa dan gizi bisa memenuhi kebutuhan harian tubuh.
Melalui
buku yang diterbitkan 2025 ini, kita akan menelusuri kiprah sukun sebagai
pangan lokal sekaligus meneguhkan kemandirian pangan nenek moyang kita di masa
silam. Sukun bukan untuk menggeser beras, tapi menjadi refleksi bahwa gastrokolonialisme
secara serius telah mengancam isi piring kita yang dulu beragam menjadi
seragam.
Sebagaimana
ungkapan penulis, “Kita bukan hanya apa yang kita makan, tapi apa yang
dimakan leluhur kita.” Memanggil pulang sukun bukan hanya seruan, tapi juga
langkah nyata kita untuk mempertanyakan telah sejauh mana kita meninggalkan
ragam pangan lokal yang terpinggirkan karena dianggap sebagai simbol kemandekan
dan ketertinggalan.
Padahal,
seharusnya kita harus merekontruksi ulang makanan pokok tak hanya sebatas nasi.
Penulis menyebutkan bahwa makanan pokok bukan hanya soal nutrisi, tapi juga
kebiasaan makan. Terlebih, ketersediaan akses pada pengelolahan serta dan penyajiannya.
Sukun menjadi salah satu pangan lokal yang harus dilirik, bukan hanya karena
kadar Indeks Glikemik yang rendah dan kaya nutrisi.
Buku
ini memaparkan alasan dibalik Sukun tak hanya menjadi pangan alternatif di
tengah situasi perubahan iklim. Berbagai penelitian telah menunjukkan pohon
sukun bisa beradaptasi dan tumbuh di suhu tertentu. Selain itu, pohon sukun
minim penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang bisa merusak tanah. Ia menjadi
salah satu pangan lokal dalam menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan.
Buku Seri
Pangan Nusantara menegaskan pangan lokal merupakan jalan utama menuju kedaulatan
pangan. Sebab, masyarakat memiliki akses terhadap pangan lokal, ramah
lingkungan, dan terjangkau di pasar lokal. Buku seri ini memberikan perspektif
untuk melihat kekayaan ragam pangan lokal yang dulu menjadi penopang nenek
moyang, sebelum digerus gastrokolonialisme.
Kumpulan buku ini wajib dibaca oleh Sobat Buku, sudahkah membacanya? Yuk, bagikan pengalaman Sobat Buku di kolom komentar!

.png)
.png)
.png)

Tidak ada komentar