Buku Reset Indonesia: Sebuah Doa dan Imaji Membangun Indonesia

Share:

 


“Hampir 10 juta Gen Z yang menganggur, memberi tanda bahwa kita bukan sedang berlari menuju masa keemasan, melainkan terseok-seok menahan kemunduran.” (Halaman 54)

Mengawali tahun 2026, Kak Rahmah selaku pengulas akan membagikan refleksi personal atas buku Reset Indonesia dalam Bicara Buku, Senin (5/1/2026). Sebuah buku yang belakangan disorot, karena menjadi saksi perjalanan tim Ekspedisi Indonesia Baru dalam mengelilingi Indonesia.


Dalam Bicara Buku tersebut, Kak Rahmah menyebutkan bahwa, buku yang berjumlah 448 halaman ini, memotret perjalanan yang ditempuh dengan jarak sekitar 11.000 kilometer, melintasi 26 provinsi dan 120 kota, serta melakukan 16 penyeberangan antar-pulau. Sebagian rute dan titik yang dikunjungi berbeda dari dua ekspedisi sebelumnya. Karena dua penulis utama, Farid dan Dandhy sudah pernah dua kali keliling Indonesia.

“Ekspedisi ini bertujuan merekam imajinasi dan harapan warga tentang Indonesia. Keempat jurnalis ini meneliti dan mencatat keragaman hayati, serta merangkai simpul-simpul komunitas sepanjang perjalanan. Dari perjalanan ini menghasilkan 18 terabytes rekaman video dan sekitar 12.000 frame foto, termasuk tentang 10 taman nasional dan 5 taman kebumian (geopark) yang dikunjungi, yang mewakili sebagian etalase keragaman hayati, ekosistem, dan bentang alam Indonesia,” tuturnya melalui WhatsApp group.

Sumber gambar dari Kak Rahmah

Lebih lanjut,  ia menjelaskan untuk menghemat biaya perjalanan, para penulis memilih untuk tidak menginap di hotel, juga tidak mendapatkan gaji selama setahun lebih. Namun, untuk peralatan dalam perjalanan dan biaya makan sudah ada dana yang disediakan.

Selain dari dana yang telah disediakan, mereka juga memperoleh dana tambahan dari pejualan tiket yang dibeli secara sukarela melalui karya film mereka yang didistribusikan di berbagai kampus Amerika dan Kanada. Begitu juga beberapa platform bioskop daring, serta di kanal YouTube. Mereka juga menggalang dana dengan membuat pelatihan menulis dan membuat video yang diampu dua penulis utama, Farid dan Dandhy.

Berkat pengalaman dan jejaring mereka berdua, pelatihannya memperoleh mendapat banyak peserta dan dukungan. Penghasilan itu pula dipakai untuk menyewa sebuah rumah yang dijadikan markas mereka di Wonosobo, Jawa Tengah.

“Ini belum termasuk biaya logistik selama perjalanan, yang mereka peroleh dari mengerjakan liputan untuk media dalam dan luar negeri. Jadi, sumber dana untuk perjalanan lebih dari setahun ini cukup beragam. Walaupun sudah ada biaya dan perhitungannya, tetap saja mereka harus berhemat,” ungkap Kak Rahmah.

Untuk diketahui, dua penulis lainnya, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu merupakan jurnalis yang baru pertama kali ikut ekspedisi ini. Tugas mereka adalah menulis esai dengan tema keindonesiaan. “Menulis memang jadi syarat utama dalam ekspedisi yang lebih banyak membuat film dokumenter itu,” tambah Kak Rahmah.

Buku yang Menyoroti Sisi Gelap Pembangunan di Indonesia

Kak Rahmah menyebut, apabila Sobat Buku pernah baca majalah National Geographic, isi buku hampir mirip dengan majalah tersebut. Namun, buku ini ditulis dengan pendekatan jurnalistik, yang tak hanya berisi pengetahuan dan pengalaman para penulis yang dipaparkan di dalam buku ini. Melainkan juga melampirkan referensi untuk setiap bab di akhir buku ini dan indeksnya, hal ini kian mempertegas buku ini disusun berdasar teori, data dan fakta lapangan yang dimiliki oleh penulis.

Sumber gambar dari Kak Rahmah

Di dalam buku ini, hampir semua isu dibahas. Dimulai dari tata kelola kota, pendidikan, pariwisata, perempuan, dan lainnya. Kata Kak Rahmah, “Pokoknya kita jadi banyak tahu fakta-fakta tersembunyi yang selama ini kita tuh kayak ngerasa kok baru tahu sekarang, ya.”

Melalui perjalanan ekspedisi tersebut, mereka telah melahirkan lima film dan satu serial dokumenter yang berkolaborasi dengan beragam komunitas dengan tema yang beragam. Sebagaimana dijabarkan oleh Kak Rahmah, “Dari pertanian (Silat Tani) hingga maritim dan kelautan (Angin Timur); dari masyarakat adat hingga keragaman hayati yang tercermin dalam kuliner (Base Genep); dari pariwisata (Dragon for Sale) hingga problem pertambangan nikel dan geotermal (Barang Panas); dari perkebunan sawit hingga konflik agraria.”

Ia juga menyebut, salah satunya sektor pariwisata yang secara permukaan mengalami pertumbuhan yang masif, infrastruktur yang memadai, hingga menarik investasi dari luar. Nyatanya, adat dan budaya lokal tersingkir di balik kemajuan tersebut. Budaya kian terkikis, alam pun dirusak atan nama pembangunan. Misalnya, Bali yang mengalami fenomena over-tourism. Sebuah potret wisata massal yang akhirnya merugikan warga setempat secara sosial, budaya, maupun ekonomi.

Apa yang diungkapkan oleh Kak Rahmah menjadi alarm pengingat bagi kita untuk mempertanyakan bahwa apakah Indonesia sedang baik-baik saja? Buku ini menjadi teropong untuk melihat Indonesia secara utuh, sekaligus gaung perlawanan atas pembangunan yang meminggirkan manusia dan alam.

Buku yang harus dibaca sekali seumur hidup oleh Sobat Buku. Tertarik untuk membacanya? Yuk, bagikan di kolom komentar.

Tidak ada komentar