Tak Utuh dalam Perjalanan Menuju Dewasa: Sebuah Refleksi Tahun Baru

Share:

 


“Your relationship with yourself sets the tone for every relationship you have.” –Robert Holden (Hlm. 8)

Tahun baru menjadi pertanda ada banyak harapan baru yang turut dilangitkan bersama dengan kembang api yang diluncurkan pada detik-detik pergantian tahun. Harapan yang dilangitkan dan ketakutan yang membumi di dalam diri kita, “Bisakah kita menjalani kehidupan dewasa dengan sebaik-baiknya? Sebuah pertanyaan yang kerap menyelimuti di pengujung tahun.”

Usia yang tak lagi bisa diajak bermain layaknya anak-anak. Memasuki usia yang menuntut kita untuk berdiam diri sejenak dan membayangkan sudahkah kita menjadi orang dewasa? Bukan hanya secara usia, tetapi dalam menyikapi hidup yang dijalani.

Barangkali hingga kini, sebagian besar dari kita masih bertanya-tanya tentang bagaimana cara dan rasanya menjadi dewasa. Kita tak hanya menerka-nerka ketidakpastian apa saja yang tersaji di depan mata, tetapi berusaha menjawab segala gejolak berdentum di kepala kita.

Menuju Dewasa dengan Kegelisahan

Melalui buku Yang Tak Terkatakan Tentang Menuju Dewasa, Penulis mengajak kita untuk menengok ke dalam diri. Memberi kita ruang untuk menempatkan segala perasaan yang selama ini kita rasakan bukan sebagai sesuatu yang sia-sia. Melainkan menjadi tanda bahwa kita sedang belajar bertumbuh.

Tak apa-apa kalau hidup biasa-biasa saja; tak apa-apa jika kita tak bisa hidup seperti orang lain; tak apa-apa mengakui kalau menjalani hidup sebagai peran pendukung, alih-alih tokoh utama.

Nyatanya, menerima dan mengakui apa yang dirasakan diri sendiri adalah bagian dari perjalanan menuju dewasa. Namun, satu hal penting yang perlu disadari oleh kita, kalau tumbuh dewasa mesti dibangun dengan bersandar pada pengetahuan dan pengalaman. Sebab, menjadi dewasa berarti kita juga perlu bertanggung jawab pada diri sendiri.

Pada sisi yang lain, kita pun menyadari kalau menuju dewasa bukan hanya tentang diri kita sebagai manusia, melainkan juga sebagai warga negara. Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang manusia, sekaligus warga negara? Nah, hal ini yang kerap “tak terkatakan” saat kita menempuh jalan menuju dewasa. Sebab, menuju dewasa adalah perjalanan yang senyap di realitas, tetapi bising di kepala.

Ragam identitas yang melekat, memaksa kita bergelut dengan gejolak batin yang serba membingungkan, serta menagih hak kita sebagai warga negara di tengah kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat. Bahkan, sebagian dari kita harus mengelus dada setiap kali membuka media sosial, saat menyaksikan ketidakpedulian penguasa. Bila hak rakyat tak dipenuhi dan suara dibungkam, satu-satunya untuk tetap kokoh berdiri adalah menjaga kewarasan pikiran.

Bertumbuh Dewasa Secara Utuh

“Carilah peran kita. perbesarlah kontribusi, perluas pertemanan, dan anggaplah setiap pertautan sebagai kesempatan untuk berkolaborasi dan berkontribusi.” –Hlm. 28

Ada satu kalimat sederhana dari buku ini yang memantik renungan; fokus berkontribusi dengan peran yang kita miliki. Sebuah pengingat kalau siapa pun memiliki peran untuk berkontribusi menyebarkan kebaikan dengan caranya masing-masing. Kita tak perlu menunggu berhasil atau telah menjadi sukses untuk bisa berkontribusi.

Barangkali peran kecil yang bermanfaat bagi orang lain, misalnya membagi hasil bacaan di media sosial, menebar senyum, membuang sampah di tempat sampah dan sebagainya juga bagian dari kontribusi kecil yang berdampak besar bagi diri sendiri.

Bila hingga hari ini, kita masih berpikir “tak utuh”, hanya karena kegagalan yang menerpa diri bukan berarti akhir segalanya. Kegagalan juga bagian perjalanan menjadi dewasa, sekalipun terasa menyakitkan. Namun, kegagalan bukan berarti pertanda bahwa kita tak utuh. Ketidakutuhan inilah yang menegaskan kemanusiaan kita sebagai manusia.

Buku ini memberi kita jeda untuk memaknai perjalanan menuju dewasa adalah perjalanan untuk menemukan diri sendiri. Bukan perjalanan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, apalagi membuat kita mesti dihajar tuntutan standar sosial yang mengasingkan diri sendiri.

Salah satu buku ini bisa menjadi rekomendasi untuk menjadi teman berkeluh-kesah kita yang sedang dan terus berproses menjadi orang dewasa yang tak hanya menjadi manusia untuk diri sendiri, tetapi juga memanusiakan orang lain.

Identitas Buku

Judul Buku: Yang Tak Terkatakan Tentang Menuju Dewasa

Penulis: Okki Sutanto

Penerbit: Pop

Tahun terbit: 2025

Jumlah halaman: 217 hlm

 

 


Tidak ada komentar