Melalui
Bicara Buku pekan ke-2 Bulan April, Senin (13/4/2026), Kak Dian berbagi
pengalamannya membaca novel karya Almira Bastari berjudul Agensi Rumah
Tangga. Novel metropop terbitan Gramedia Pustaka Utama ini, mengusung tema slice
of life yang dekat dengan pembaca. Bukan hanya karena ceritanya yang unik,
tetapi juga dibungkus humor khas ala Almira Bastari. Sebuah novel yang
menyoroti sisi lain kehidupan perempuan dari sudut pandang perempuan.
Btw, menurut
Kak Dian, novel bergenre metropop ini berfokus pada kisah romansa perkotaan
(metropolitan) populer yang diterbitkan oleh Gramedia. Novel genre ini pun berfokus
pada kehidupan dewasa muda (usia 25+), karier, dan percintaan realistis di kota
besar.
Secara
garis besar, novel ini menyoroti kehidupan Katia yang berbulan-bulan jungkir-balik
setelah di-PHK. Terlebih, sejak bekerja di sebuah startup, ia begitu
bangga sampai lupa kalau hidup kadang emang suka sebercanda itu. Dikejar-kejar
cicilan KPR, hingga omelan ibunya yang sebentar lagi pensiun PNS telah menjadi
lagu wajib Katia berhari-hari.
Entah angin apa yang merasukinya, Katia nekat membuka Agensi Rumah Tangga, sebuah yayasan penyalur bagi asisten rumah tangga (ART). Yaps, yayasan ini menjadi tempat Katia mempertemukan beragam ART yang sesuai dengan kriteria calon majikan. Sejak itu, hidup Katia kian dipenuhi rentetan drama yang cukup menguras isi pikiran dan emosi.
Dekat
dengan Pengalaman personal Perempuan
Novel yang
terbit di tahun 2024 ini, memiliki alur ringan mudah diikuti. Secara personal, bagi
Kak Dian novel ini begitu relevan dengan kehidupannya. Terlebih, novel ini
secara gamblang menyoroti relasi antara sesama perempuan sebagai anak-ibu,
maupun rekan kerja di Agensi Rumah Tangga.
Melalui
POV Katia, ibu, dan rekan kerjanya, novel ini menegaskan sisi kompleksitas
kehidupan perempuan secara jujur, jenaka, tetapi juga mengena. Melalui para
tokoh di dalamnya, kita akan bergumul dengan ketakutan dan sisi lain hidup
mereka sebagai perempuan.
Katia
yang juga tokoh utama dalam novel ini, secara tak langsung menyuarakan suara hati
perempuan di usia 30-an. Usia di mana berdasarkan tuntutan sosial bahwa seseorang
sudah harus stabil secara finansial dan pekerjaan plus percintaaan—yang tak
semua orang miliki. Nyatanya, usia bukan deadline apalagi tolok ukur
untuk mengukur keberhasilan seseorang.
Melalui
sepak-terjang Katia, mengingatkan kita bahwa tak ada batasan usia untuk mencoba
hal baru—sekalipun pertentangan dengan apa yang diinginkan oleh orang terdekat
kita. Kekhawatiran pada usia, tak lantas menjadi batasan bagi perempuan untuk bertumbuh.
Melalui
Agensi Rumah Tangga, Katia tak hanya membangun sebuah jasa pelayanan, tetapi
juga kemandirian dirinya sesudah diterpa badai PHK. Sesuatu yang pahit, tetapi
mendatangkan karakter lain Katia: Keberanian. Terlepas dari ia sekalipun tak memiliki
pengalaman apapun yang berkaitan dengan ihwal rumah tangga. Menyelam sambil
minum air, Katia belajar sambil mengelola sambil menghidupkan agensi.
Sementara
itu, novel berjumlah 272 halaman ini, menampilkan sisi lain kasih sayang
seorang ibu yang khawatir dengan kehidupan Katia. Ibunya ingin yang terbaik,
tetapi apa itu yang terbaik? Memaksakan pekerjaan yang ideal bagi anak, tak
lantas menjamin kebahagiaan mereka. Terlebih, apa benar setiap pekerjaan yang
digeluti oleh sudah menggembirakan hati mereka? Alih-alih mempertebal isi
dompet, tetapi juga terkadang menipiskan isi hati.
Apa yang
bisa kita pelajari dari novel ini? Keberanian untuk berdiri di atas kaki
sendiri, sekalipun dilanda kebingungan harus memulai sesuatu dari mana. Seperti
Katia yang hanya memiliki tekad untuk melunasi KPR-nya apapun yang terjadi. Titik.
Miliki sesuatu yang bisa kita perjuangkan sepenuh hati. Eh, tapi bukan berarti
harus punya cicilan KPR juga, ya!
Adakah
tingkah ajaib Katia yang bisa bikin geleng-geleng kepala? Yuk, bagikan
pengalaman membaca Sobat buku di kolom komentar?


Tidak ada komentar