Apa
jadinya perempuan tanpa membaca buku? Satu pertanyaan sederhana yang selama ini
tak pernah ditanyakan oleh orang lain—bahkan kepada diri saya sendiri.
Membaca
mendekatkan saya kepada diri saya sendiri yang selama ini terasa jauh. Bahkan
lebih jauh dari kedekatan dengan orang lain. Di momen ini—perayaan Hari
Kartini—saya menyadari membaca buku bukan sesuatu yang mesti dipisahkan dari diri
perempuan.
Membaca
menjadi jalan sunyi sekaligus terang dalam membentuk agensi pada diri
perempuan. Sebuah jalan yang sedari dulu telah ditapaki oleh Kartini untuk
menemukan suara kecilnya yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap
hidupnya. Sebab, itulah satu-satunya cara untuk membebaskan dan menentukan
nilai dirinya, tanpa dilekatkan dengan identitas yang diberikan kepadanya.
Kartini
menyakini bahwa kebebasan setiap perempuan tak pernah bisa dicapai selama
perempuan tak diberi akses pengetahuan. Membaca menjadi jalan panjang untuk
membentuk jati diri seorang perempuan. Dan melalui buku, Kartini menyerukan
perlawanan atas watak budaya feodalisme yang membelenggu perempuan.
Kartini
mungkin juga turut menjadi korban dari watak tersebut. Namun, di balik itu, ia
tetap memiliki agensi atas dirinya sendiri. Ia bertahan, meskipun membenci
poligami. Hal itu terlihat keteguhannya dalam mengajukan syarat yang harus disanggupi
oleh calon suami untuk menikahinya. Salah satunya mendirikan sekolah khusus
perempuan.
Jatuh bangun yang mesti dihadapi Kartini di masa lalu, hingga kini masih dihadapi oleh perempuan dengan wajah yang berbeda. Berbagai stereotip gender yang mendiskriminasi masih menghantui kaum perempuan di setiap sudut ruangan. Bahkan, mirisnya, hal ini pun masih menyesaki perempuan saat ia berada di ruang bernama rumah.
Agensi
Perempuan
Dalam pandangan
Saba Mahmood, agensi perempuan tak bisa dipahami sebatas kehendak menentukan
pilihan dengan hanya bersandar pada kemampuan yang dimilikinya. Namun, bagi Saba,
agensi adalah kemampuan dan kuasa perempuan untuk membentuk dan membangun makna
dalam hidupnya. Dalam konteks ini, perempuan memiliki keluasaan untuk menjadi sesuatu
yang berarti melalui pemaknaan hidupnya. Dan hal ini tak melulu berangkat dari
sesuatu yang besar, terkadang pemaknaan dibangun dari hal-hal kecil.
Ini menegaskan
bahwa membaca menjadi ruang perempuan untuk membangun otoritas diri sekaligus menuliskan
pemaknaannya melalui laku hidup yang dijalaninya. Selain itu, agensi perempuan yang
berorientasi pada pemaknaan hidup juga bentuk lain perlawanan secara senyap. Sebab,
ini merupakan cara untuk perempuan meneguhkan sikapnya sebagai seorang perempuan. Sebagaimana
diungkapkan Kartini, “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tetapi
satu-satunya yang benar-benar bisa menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”.
Membaca
adalah jalan menyuarakan keberpihakan kita, baik pada diri sendiri dan orang
lain. Tanpa membaca, bisakah kita mengenali diri kita? Mengenali agensi yang terpendam oleh ketidaktahuan. Ini menjadi jurang
yang memisahkan kita dengan hakikat diri kita sebagai seorang perempuan.
Terlebih,
kita hidup dengan satu jati diri yang tunggal sebagai perempuan dan manusia. Namun,
di sisi lain, hidup dengan beragam identitas yang dilekatkan pada kita sejak
dilahirkan hingga kini. Baik sebagai seorang anak, kakak, adik, ibu dan sebagainya. Lantas, jika
kita tak membaca, bisakah kita merenggut apa yang hilang dari kita? Sesuatu
yang sublim dari diri kita, yakni suara terdalam jiwa.
Sebab, inilah suara yang takkan pernah padam, sekalipun dunia dipenuhi kebisingan yang memekakkan telinga. Membacalah untuk hidup. Bebaskan pikiranmu dari tubuh yang mengada dalam waktu. Sebagaimana Bung Hatta yang rela dipenjara asal bersama buku, karena dengan buku ia bebas.
Lantas, apa arti buku bagimu? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar!

Tidak ada komentar