“Novel
berjudul Katri ini bisa dianggap sebagai salah satu biografi (fiksi sejarah) yang
mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan bernama Katri yang besar di Desa
Trunuh, Klaten. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara yang semuanya
laki-laki. Sebagai pencinta seni, Katri lantas bergabung dengan sebuah sanggar
yang mempertemukannya dengan calon suaminya, Agus, sekaligus permulaan dari
rentetan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya,” jelas
Geeta Anjani.
Pernyataan tersebut disampaikan Kak Geeta saat menjadi pengulas dalam Bicara Buku yang dilaksanakan di grup WhatsApp Forum Buku Berjalan, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu acara mingguan rutin yang membahas buku yang diulas oleh setiap anggota, sesuai dengan jadwal yang diisi oleh mereka di setiap minggu.
Saksi
Bisu dalam Tubuh Katri
Novel ini dibuka dengan perjalanan cinta antara Katri dan Agus, yang ditentang oleh kedua orang tua Katri. Namun, pertentangan itu pun tak menjadi penghalang bagi Agus untuk menikahi Katri. Sayangnya, kehidupan rumah tangga mereka tak berjalan mulus.
Suatu hari, tepatnya di bulan Oktober 1965, satu rombongan
tentara memasuki rumahnya, mencari sang suami dan kakak-kakaknya. Dalam keadaan
hamil tujuh bulan, Katri ditembak. Sebuah peluru menyasar pipi dan rahangnya. Secara
ajaib, ia masih bernapas.
Ia hidup,
tetapi kehidupannya tak lagi sama sebagai seorang Katri. Tubuhnya menjadi saksi
bisu yang membawa segala trauma tersembunyi sebagai seorang yang diceploskan ke
penjara—hanya karena mempertanyakan alasan di balik hilangnya orang-orang
terdekatnya. Ia hidup dari penjara ke penjara. Menggugat dalam diam sekaligus
menyaksikan penyiksaan tak manusiawi yang menjadi makanan sehari-harinya.
Bisa dibilang,
hidup Katri seperti dibayangi-bayangi maut yang siap menyapa kapan saja. Namun,
ia tetap bertahan dengan terus menyalakan harapan di dalam jiwa—dan tubuhnya.
Sisi Lain
Kehidupan Katri
![]() |
| Dokumen pribadi Geeta Anjani |
Bagi Geeta,
membicarakan tahun 1965 menjadi alarm yang menyalakan luka yang terus hidup dalam
ingatan setiap orang. Terlebih, Katri, saksi sekaligus korban dari kekejaman
yang lahir dari perenggutan kuasa atas nama melindungi rakyat—tetapi mengorbankan
rakyat. Membaca kisah hidup Katri seumpama menyaksikan setiap dada ini dihujani
pecahan kaca: Ngilu sekaligus sesak hingga berujung air mata tumpah tanpa jeda.
Sementara
itu, kehidupan Katri di penjara bagaikan dikurung di sarang harimau. Ia dipaksa
melihat dan merasakan langsung kekejaman tersebut. Menurut Geeta, “Fyi, kata
penulisnya, narasi kekejaman di buku ini sebenarnya sudah diperhalus, aslinya lebih
keji.”
Lebih lanjut,
Geeta menuturkan, unsur sejarah yang disajikan dari sudut pandang Katri,
mengajak pembaca untuk melihat peristiwa 1965 secara lebih berempati. Sebab,
ini tak hanya tentang hidup—tetapi juga kemanusiaan yang terus tumbuh di tengah
penghakiman dan prasangka yang disuburkan oleh penguasa.
Buku yang
berasal dari kisah nyata ini, menegaskan bahwa ada suara lain yang harus
didengar—suara korban yang selama ini dibungkam oleh prasangka. Katri, hanya satu
dari sekian penyintas yang suaranya dicuri oleh luka trauma yang dilahirkan
oleh tragedi tersebut. Hingga kini, Katri masih hidup dengan tubuh yang merekam
setiap jejak kekejian yang tak kasatmata.
Geeta juga menambahkan bahwa, penulis—Adeste Adipriyanti—menyebutkan awal mula dan alasan di balik penulisan novel ini. Bukan hal yang mudah bagi Katri untuk mengingat kenangan—sekaligus luka—dari renteten peristiwa yang dialami berpuluh tahun silam.
Pengerjaan buku ini pun memakan waktu hingga sebelas tahun lamanya. “Segala
kisah yang tertuang tak diceritakan sekaligus, ada juga setelah delapan tahun
baru bisa diceritakan. Setiap tokoh yang diceritakan di dalam buku ini pun merupakan
nama asli. Dan, sebelum buku ini diterbitkan, anak-anak Bu Katri telah membacanya
dan menetujui untuk diterbitkan,” pungkas Geeta.
Melalui
Bicara Buku pekan ke-3 ini, kita tak hanya mengenal Katri, tetapi juga menyelami
kehidupan Katri sebagai penyintas yang telah mengajarkan kita untuk bertahan,
di badai kehidupan. Sobat Buku, apa hal pertama yang terlintas di pikiran
kalian saat membaca buku ini? Yuk! Bagikan di kolom komentar.



Tidak ada komentar