Selama
ini, apa yang terlintas di benak Sobat Buku saat melihat buku dengan label usia
tertentu di sampul belakangnya? Apakah menimbulkan rasa khawatir? Eits, tunggu dulu.
Jangan terburu-buru menyimpulkan.
Jika meminjam
filosofi judul bukunya Sapardi Djoko Damono, Bilang Bagini Maksudnya Begitu,
pemberian klasifikasi usia bukan karena konten “tertentu” yang kerap dipahami
secara sempit. Sebaliknya, klasifikasi usia berfungsi untuk memberi panduan
bagi pembaca dalam memilih bacaan yang aman dan nyaman.
Terlebih, di era sekarang, setiap pembaca bisa mengakses bacaan secara bebas. Padahal, tak semua isi konten buku cocok untuk beragam usia. Apalagi bagi pembaca yang secara usia maupun emosional yang bisa dipengaruhi oleh bacaan tertentu.
Majalah Media Komunikasi dan Inspirasi Jendela Pendidikan dan Kebudayaan Edisi XIII/Agustus 2017, menyebutkan bahwa pencantuman peruntukan buku harus disesuaikan dengan jenjang usia pembaca. Hal ini untuk memberikan kepastian bagi pembeli buku dalam memilih buku yang dibaca. Sebab, isi konten dari buku bisa menjadi pemicu (trigger) yang bisa membuat pembaca merasa terganggu. Secara tak langsung, akan berdampak bagi pengalaman membaca seseorang.
Kita
Terhubung dengan Apa yang Dibaca
Sedari
awal menggenggam buku, pengalaman kita sebagai seorang pembaca berjarak dengan
penulis. Namun, kita tetap terhubung dengan apa yang ditulisnya. Dalam konteks
ini, kita memiliki keterhubungan emosional yang dibangun melalui isi konten
yang dibaca. Misalnya, kita ikut merasakan suka-duka segala hal yang dialami
oleh tiap tokoh yang disajikan penulis di dalam bukunya.
Meski tubuh
tak terlibat langsung dengan peristiwa di dalam buku, tapi apa yang kita baca dengan
pancaindra akan diimajinasikan oleh pikiran. Hal ini membawa
serta tubuh kita untuk merasakan situasi tersebut. Thomas Hidya Tjaya dalam
bukunya Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia (2020), menyatakan bahwa pengalaman
tersebut tak terlepas dari penampakan yang hadir melalui teks, yang secara tak
langsung menampakkannya dalam kesadaran kita melalui proses membaca.
Kita
perlu menyadari jika pengalaman membaca yang aman dan nyaman perlu menjadi
prioritas bagi pembaca. Tak semua orang memiliki kadar toleransi yang sama untuk merespon beragam peristiwa yang disajikan di dalam isi buku. Terkadang, bisa membangkitkan
rasa takut, cemas, sensasi tak nyaman, hingga hampa melalui respons tubuh.
Isi konten
buku yang memiliki klasifikasi usia membantu pembaca untuk bijak. Memilih dan memilah
bacaan yang tepat dengan mencari informasi yang disajikan penerbit melalui sampul
depan maupun belakang buku. Hal ini juga tak terlepas dari tanggung jawab penerbit
dalam menunaikan amanahnya sesuai dengan Kode Etik Penerbitan—salah satunya tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Hal ini
pun menjadi perhatian Pemerintah melalui UU Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Sistem
Perbukuan Nasional, yang ditindaklanjuti dengan adanya Permendikbudristek Nomor
22 Tahun 2022. Peraturan tersebut menegaskan bahwa penyampaian isi buku harus
sesuai dengan pembaca sasaran dengan pola dan alur yang sesuai dengan ragam dan
genre penulisan.
Selain
itu, setiap buku yang diterbitkan harus memenuhi syarat isi buku yang meliputi:
· Tidak
bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila;
· Tidak
diskriminatif berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau antargolongan
· Tidak
mengandung unsur pornografi;
· Tidak
mengandung unsur kekerasan; serta
· Tidak mengandung ujaran kebencian.
Klasifikasi
usia menjadi elemen penting sebagai alat bantu untuk menjamin pengalaman
membaca yang aman dan nyaman bagi pembaca. Terlebih, setiap orang memiliki
ruang aman yang berbeda dalam bersentuhan dengan isu konten yang disajikan,
walaupun mereka telah mencapai usia legal secara hukum.
Nah, Sobat Buku, apa yang biasanya menjadi pertimbangan dalam memilih buku dengan klasifikasi usia tertentu? Yuk, bagikan di kolom komentar!
.jpg)
Tidak ada komentar