Pada
pekan ke-III April, Senin (20/4/2026), Kak Yuni sebagai pengulas berbagi
pengalamannya membaca buku berjudul The Home Edit Life karya pertama
Joanna dan Clea Shearer dalam Bicara Buku yang dilaksanakan di Whatapp Group
FBB. Dipandu oleh Kak Rahmah selaku Moderator, Kak Yuni menjabarkan secara
detail mengenai buku ini.
Sebelum
itu, Kak Yuni juga membagikan serial gaya hidup yang ditayangkan di Netflix
yang menampilkan para penulis buku ini. Acara tersebut menerapkan beragam
prinsip yang ada di buku tersebut.
Awal
mula kelahiran buku The Home Edit (THE)
Pertemuan
antara Clea dan Joanna, diawali dengan kepindahan Clea ke kota Nashville tahun
2015, karena mengikuti pekerjaan suaminya. Pada saat itu, Clea berusia 33
tahun. Baginya, pindah ke kota baru membawa satu keinginan yang tumbuh di hati
kecilnya: membangun bisnis jasa mengorganisir rumah.
Melalui
media sosial, Clea berkenalan dengan seorang ibu yang tinggal di kota yang sama
dan berakhir dengan pertemuan di dunia nyata. Dari perkenalan tersebut, Clea
menjadi yakin untuk membahas visi bisnisnya bersama Joanna. Kata Kak Yuni, ini
bisa dibilang tindakan nekat untuk mengajak bisnis orang yang baru pertama kali
ditemui. Hehehe. Dan, ternyata mereka berdua memang cocok berbisnis dan saling
melengkapi bagi satu sama lain.
Btw,
menurut Kak Yuni, buku ini memiliki keunikan dari gaya menulisnya. Apa, sih,
uniknya? Karena membaca buku ini, seperti lagi mengobrol bareng para ibu tanpa
perlu dipusingkan dengan jargon yang sulit dimengerti. Bonusnya, buku ini
terasa ringan dengan dibumbui selera humor penulisnya. Oh, ya, mereka
membuat sebuah sistem penataan yang disingkat THE (The Home Edit). Jadi,
buku ini kita singkat saja jadi THE.
![]() |
| Dokumen pribadi Kak Yuni |
Lebih Dekat dengan Buku THE
Buku dengan tebal 255 halaman ini berukuran B5. Menariknya, berwarna sepenuhnya dan kertasnya yang mirip kertas majalah glossy. Di dalam buku ini, terdapat tiga bagian. Lebih lanjut, Kak Yuni menjelaskan tentang sistem THE. Sistem ini menjanjikan 5 hal penting:
- Time saver: menghemat waktu, karena semua benda di rumah memiliki tempat penyimpannya masing-masing. Sehingga tidak menghabiskan waktu saat mencari barang-barang.
- Money saver: menghemat uang, karena saat menerapkan sistem THE ini, kita jadi tahu stok barang habis pakai dan tidak membeli barang yang sama dalam jumlah besar.
- Sanity saver: sistem THE juga membantu menjaga pikiran, saat kita menjalankannya. Hal itu bisa terlihat dari peletakan semua benda yang secara konsisten, sehingga mengurangi beban para ibu. Terlebih, peletakannya mudah ditemukan dan dikembalikan oleh orang rumah.
- Closure: ini menjadi langkah nyata untuk mempertegas kelekatan pada benda-benda kenangan.
- Calming: Sistem ini juga bisa mendatangkan ketenangan dan terapeutik jika hidup di rumah yang barang-barangnya tersusun rapi.
Kak
Yuni mengungkapkan bahwa, “Sistem THE ini lebih fleksibel, ya, daripada
Marie Kondo. Sebab, sistem ini membolehkan menyimpan barang kenangan dan
koleksi dengan syarat kita menyediakan ruang khusus untuk benda tersebut.”
Lebih lanjut, prinsip utama di dalam metode THE ini, menggunakan Function meets Form. Artinya, segala sesuatu yang ada di dalam rumah harus memenuhi dua syarat: fungsi dan estetika.
![]() |
| Dokumen pribadi Kak Yuni |
Klasifikasi
Proyek
Prinsip ini menggunakan 3 jenis klasifikasi proyek dalam menerapkan metode ini:
- Easy: laci dan dibawah wastafel (bak cuci piring)
- Medium: kamar mandi dan tempat belajar anak
- Difficult: lemari baju, dapur
Dalam
proyek ini, penulis menyarankan untuk memulai dari hal-hal yang easy.
Sehari satu proyek tanpa perlu berlebihan. Selain itu, mereka juga mengurutkan
buku dan benda berdasarkan warna Pelangi.
Ada
satu hal penting yang dinasehatkan oleh penulis, jika kita ingin menata rumah.
Dalam konteks ini, kita mesti mengenal betul ruang yang kita miliki. Bahka,
memastikan setiap sudut rumah kita dikenal dengan baik sebelum membeli barang.
Salah satunya, mengukur laci meja kita dengan ukuran presisi, sehingga kita
bisa membeli container plastik transparan yang pas untuk meletakkan
benda-benda di dalamnya.
Jadi,
kita tak lagi dipusing untuk meletakkan barang kita di mana saja, karena kita
sudah tahu. Oh, ya, Kak Yuni juga mengingatkan bahwa sistem ini seperti
memiliki garansi yang berkelanjutan bagi siapapun yang menerapkannya. Sebab,
ini bukan sistem yang bisa membuat orang menyerah di tengah jalan.
Sisi
Lain Buku Ini
Prinsip utama yang digagas oleh penulis, ada beberapa hal yang tak cocok untuk diterapkan dalam konteks gaya hidup dalam standar pembaca, yaitu:
- Makanan yg dihangatkan sudah dianggap memasak
- Pizza adalah salad tanpa selada
- Menjalani hidup sehari-hari adalah olahraga
- Minuman sampanye diidentifikasikan dengan air (justifikasi minum alkohol)
- Pergi ke toko adalah aktivitas cardio
Bagi Kak Yuni, ini sisi lain buku yang mesti disikapi secara bijak oleh pembaca, karena terkesan memaksakan gaya hidup yang tak cocok bagi orang lain. Dan, menurutnya, cara ini tak terlepas pemikiran mereka kalau menganggap kalau hidup itu adalah memilih pertarunganmu. Hal ini pun mereka terapkan dalam hehidupan sehari-hari mereka dengan memilih. Misalnya, rumah rapi pikiran kalem, daripada dapur berantakan karena masak besar.
Terlepas dari sisi lainnya, buku ini termasuk buku yang bisa dijadikan panduan dalam menata barang-barang di rumah. Jadi, tertarik untuk membacanya? Yuk, bagikan pendapat Sobat Buku di kolom komentar!




Tidak ada komentar