Sisu: Resep Bahagia dan Tangguh ala Orang Finlandia

Share:

 

 


“Makan ‘santai’ berarti kita meningkatkan porsi makanan sehat, bukan berfokus hanya pada makanan yang tidak sehat.”

—halaman 123

 

Sobat Buku, pernah nggak mendengar filosofi sisu? Sebuah filosofi yang telah lama dilakoni oleh salah satu negara Skandinavia yaitu Finlandia. Melalui bicara buku pekan pertama, Senin (6/4/2026), Kak Rahmah membagikan pengalaman membaca buku berjudul Finding Sisu Hidup Sehat dan Seimbang ala Orang Finlandia.

 


Identitas buku

Judul  buku   : Finding Sisu: Hidup Sehat dan Seimbang ala Orang Finlandia

Penulis          : Katja Pantzar

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit  : 2023

Tebal            : 273 halaman

Sekilas Tentang Filosofi Sisu

Seperti yang terdapat di judul bukunya, Kak Rahmah mengajak kita untuk berkenalan dengan salah satu resep bahagia ala penduduk Finlandia. Menurutnya, jika negara Jepang memiliki Ikigai, dan Korea dengan Nunchi, maka Finlandia ada namanya Sisu.

Ia menyebut bahwa ada beberapa penafsiran tentang sisu. Di antaranya, ada yang menyatakan kalau sisu merujuk pola pikir yang menunjukkan tekad, keberanian, dan semacam ketabahan, yang terwujud ketika kita merasa telah menggunakan semua kekuatan.

Lebih lanjut, Kak Rahmah menuturkan kalau kata ini (sisu) menunjukkan menunjukkan percikan kekuatan hidup. Hal ini secara tak langsung menggerakkan kita untuk tetap bernapas di tengah rintangan yang dianggap hampir mustahil.

Hidup kita di masa kini, telah banyak menawarkan kenyamanan dan kemudahan dengan adanya akses teknologi dan telekomunikasi yang semakin canggih. Namun, di sisi lain, terkadang membuat jiwa kita kering dan jauh dari Tuhan. Tanpa disadari, pikiran-pikiran negatif kerap menjurus ke hal-hal yang berpotensi membahayakan diri bisa terjadi.

Praktik Filosofi Sisu

Buku ini hadir berdasarkan pengalaman Katja Pantzar dalam mewawancarai orang-orang yang ahli di bidangnya. Melalui wawancara tersebut, kita mengenal hidup minimalis ala kaum Nordik.

Menurut Kak Rahmah, ada hal menarik tentang praktik filosofi sisu yang diterapkan di aktivitas harian. Misalnya, mandi di air dingin atau es. Walau terdengar ekstrem bagi kita, tetapi budaya hidup itu telah menjadi hal biasa bagi orang-orang Finlandia. Hal itu kian ditegaskan oleh penelitian yang dipaparkan dalam buku ini, kalau salah satu tempat terbaik untuk melepaskan stres, bahkan mengolah trauma adalah dengan berada di alam.

Fun fact, di buku ini juga menjabarkan informasi tentang penulis yang sempat dibesarkan di alam yang indah—tepatnya di dekat hutan di Pantai Barat Kanada. Walaupun begitu, penulis belum sepenuhnya memahami keindahan, dan manfaat hutan sampai ia pindah ke Finlandia.

Sebagai salah satu negara Skandinavia, Finlandia merupakan negara paling berhutan di Eropa. Lebih dari 75% wilayahnya tertutup pepohonan. Selain itu, Kak Rahmah menjelaskan, “Konsep hutan adalah hak milik setiap orang. Ini menandakan bahwa siapa pun bisa berjalan, mendaki, berkemah, mencari buah beri atau jamur di hutan, atau berenang di danau atau laut, selama mereka berperilaku sopan”.

Menurut survei tahun 2018, lebih dari 80% responden di Finlandia mengatakan bahwa hutan penting bagi mereka. Sebab, hutan adalah tempat perbaikan pikiran dan tubuh yang aman dan membahagiakan.

Sisi Lain Sisu

Sisu yang bermanfaat membuat orang mampu menggunakan kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam dirinya, demi bergerak dengan ke arah tujuan yang ingin dicapai. Bahkan bisa melampaui apa yang kita percayai sebagai batas kemampuan kita.

Namun begitu, Sisu tak selamanya positif. “Berdasarkan kajian yang dirilis pada tahun 2020 itu menunjukkan bahwa praktik hidup ala sisu masuk ke dalam dua kategori: bermanfaat dan berbahaya,” jelas Kak Rahmah.

Hal ini tak terlepas dari sisi kecenderungan sisu yang berbahaya bisa menjerumuskan orang untuk menerima tantangan yang terlalu sulit, atau mendorong terlalu keras ke arah yang salah. Sebagaimana ia jelaskan, hasil kajian itu juga menunjukkan bahwa mengenali berbagai karakteristik yang berkaitan dengan sisu bisa membuat seseorang dapat membantu meningkatkan kesadaran diri dan pengembangan pribadi.

Salah satu sisi kecenderungan pemikiran sisu tersebut di antanya: “Jangan mengasihani diri sendiri" cukup terdengan terdengar ekstrem, ya. Kok harus keras sama diri sendiri? Kak Rahmah mengungkapkan, “Konsep jangan terlalu lunak atau cepat mengasihani diri sendiri ini mengajarkan kita untuk tetap kuat dan pantang putus asa. Jangan mudah lemah hanya karena omongan segelintir orang misalnya.”

Ia juga mengingatkan kalau pada beberapa momen tertentu, kita boleh menangis berjam-jam di kamar. Namun, kita harus tetap tangguh untuk menyakinkan diri untuk kembali tegak menatap masa depan. Menariknya, buku ini memiliki banyak kutipan yang relevan dengan pembaca.

Menarik, kan? Ada yang pernah membaca buku ini? Yuk bagikan pengalaman membaca Sobat Buku di kolom komentar!

Tidak ada komentar