Dalam
pandangan agama-agama, kebahagiaan hanya bisa dicapai saat manusia melepas
segala kemelekatan yang berada di luar diri manusia dari dalam dirinya—termasuk
dalam pikiran mereka. Sebab, hal-hal yang melekat, seumpama penilaian orang
lain atas diri kita secara tak langsung memberi tekanan pada kita hingga
berujung overthingking.
Melalui
buku berjudul Qur'anic Stoicism Philosophy karya Safi Sahri yang diulas
oleh Kak Rahmah. Ini dibahas dalam Bicara Buku pekan pertama Bulan Mei, Senin
(4/5/2026), memberikan sudut pandang baru dalam mengurai tekanan yang kerap
menganggu keseharian kita—terutama dalam pikiran dan hati kita.
Identitas
Buku
Judul:
Qur'anic Stoicism Philosophy
Penulis:
Safi Sahri
Tahun
Terbit: 2025
Penerbit:
Quanta books
viii+236
halaman
Menurut
Kak Rahmah, pasti di dalam keseharian kita mengalami hal-hal yang kurang
menyenangkan, bahkan memalukan yang terjadi secara tak sengaja. Lantas,
berujung menghakimi diri sendiri dengan beragam pemikiran yang menguras energi
kita. Hanya karena kita takut dianggap tak kompeten oleh orang lain. Namun,
saat mengalami kejadian tersebut, adakah orang-orang sekitar juga beranggapan
seperti hal-hal yang terlintas kepala kita?
Dalam
buku ini bernuansa stoikisme versi Islami ini, berfokus mengenalkan seni
mencapai kebahagiaan dan mengelola tekanan dengan Al-Qur'an. Kita diajak untuk
menyelami memdedah cara berpikir kita. Dalam konteks ini, kita melatih diri
untuk memikirkan beragam hal secara objektif.
Disadari
atau tidak, kita kerap menyulitkan diri kita sendiri dengan sesuatu yang
sebenarnya mudah dan sepele. Kita terjebak oleh ketakutan yang dibangun oleh
pikiran dalam alam bawah sadar. Imbasnya, menurut Kak Rahmah, hal remeh pun
bertransformasi menjadi monster yang mengerikan dan membuat kita tidak bisa
tidur.
Sebaliknya,
melalui buku ini, yang di halaman-halaman tertentunya menyajikan kutipan dan
ilustrasi, serta akhir bab ada kolom isian yang memotivasi kita untuk lebih
sering berefleksi. Refleksi tentang apa sih? Tentang cara untuk mengendalikan
diri kita dari tekanan yang lahir dari pikiran kita. Penulis pun juga berbagi
pengalamannya dan juga temannya yang relate dengan apa yang dialami oleh
pembaca.
Buku
ini secara tegas mengingatkan kita kalau ada banyak hal yang terjadi di dalam
hidup kita—tak semuanya mesti kita pikirkan. Ada hal-hal yang bisa kita
kendalikan dan di luar kendali kita. Misalnya, kita tak bisa mengendalikan
laptop yang tiba-tiba error. Namun, kita mengendalikannya dengan mencari
solusi dari masalah tersebut.
Penulis
juga memberikan salah satu tips untuk tetap tenang, saat merasa tertekan. Yakni
rumus 356. Tiga menit untuk menenangkan diri, lima menit untuk berpikir, dan
enam menit untuk mengambil Keputusan. Tak perlu terburu-buru. Kita hanya perlu
tetap tenang untuk bisa berpikir jernih dan menemukan solusi atas apa yang kita
alami.
Terlebih
buku ini benar-benar secara realistis memberi kita gambaran nyata kalau pikiran
yang tenang punya pengaruh besar pada diri kita. Bahkan, dalam menjaga diri
kita dari hal-hal negatif yang terlahir dari prasangka yang kerap kita tujukan
pada diri sendiri—hanya karena orang lain. Buku ini juga memiliki beragam
artikel yang menarik, tanpa harus dibaca berurutan.
Ada
satu hal penting yang disarankan oleh penulis untuk membiasakan diri
mengucapkan afirmasi positif dalam memulai hari alias di pagi hari. Seperti
diungkapkan Kak Rahmah, “Peristiwa yang tidak menyenangkan sangat mungkin
terjadi, tetapi semua itu akan lebih ringan jika pikiran kita hanya berisi
hal-hal baik. Meski tidak mudah, setidaknya harus kita coba dan biasakan.
Memang beda efeknya kalau kita sudah terbiasa berpikir positif sama yang belum
terbiasa.”
Melalui afirmasi tersebut, kita berusaha untuk mengarahkan pikiran pada hal-hal positif. Pikiran kita seumpama sebuah teko air hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Sebuah teko yang berisi teh, hanya akan mengeluarkan teh, bukan sebaliknya berisi kopi.
Dalam
hal ini, kalau pikiran kita terbebani oleh hal negatif, secara tak langsung
akan membuat kita mudah tertekan bahkan dilanda kekhawatiran. Sebab, pikiran
yang terjaga dengan hal-hal baik akan menjaga kita dari rasa takut dan khawatir
saat menjalani keseharian.
Afirmasi
positif juga membuat kita untuk terus berprasangka baik, baik secara lisan
maupun pikiran. Kebiasaan ini perlahan akan mengubah pola pikir kita dalam
memandang cara dunia bekerja dan sikap kita dalam menyikapi peristiwa yang
dialami.
Apalagi
dalam memaknai konsep kebahagiaan, kenapa orang bisa tak merasa bahagia dengan
hidupnya? Menurut Kak Rahmah, jawabannya tak terlepas diri yang tidak menerima
apa yang menjadi takdirnya. Kita lebih sibuk mencari sesuatu yang lain, yang
bisa mengisi kekurangannya, dengan harapan bisa mendapatkan kebahagiaan.
Nyatanya, bahagia harus dimulai dari penerimaan atas takdir itu sendiri.
Bagi
Kak Rahmah, buku mengajarkan banyak hal, terutama konsep tawakal. Bahwa tawakal
tak semata-mata berusaha, berdoa, kemudian tawakal. Sebaliknya, tawakal mesti
menjadi hal paling mendasar, agar kita lebih ikhlas dan rida terhadap
ketetapan-Nya. Sebab, selama ini, kita kerap berpasrah, tetapi terbayang oleh
ekspektasi pribadi.
Jika
sedari awal kita melakukan sesuatu dengan dilandasi kesadaran—bahwa apapun
hasilnya, Tuhan yang menentukan pilihan terbaik untuk kita. Sebab, apa yang
kita anggap baik belum tentu itu baik untuk kita, dan apa yang kita anggap
buruk, nyatanya sebaliknya.
Buku
ini cocok dibaca oleh siapa pun, terutama bagi pembaca yang sedang mengalami
kegundahan maupun pengingat untuk lebih menikmati hidup dengan cara sederhana.
Jadi, Sobat Buku tertarik membaca buku ini? Yuk, bagikan di kolom komentar.


Tidak ada komentar