Drama Yumi
Cells Season 3 memberi satu sudut pandang berbeda dalam merespon sesuatu di
luar zona nyaman kita. Di drama ini, Yumi (Kim Go Eun) harus berkutat
menghadapi Soon Rok (Kim Jae Won)–produser editorial—yang saat bekerja
membuatnya tak nyaman.
Baginya,
Soon Rok—alih-alih asyik—tipikal orang yang serba kaku saat diajak
berinteraksi. Hal ini kian menegaskan klaim sel-sel Yumi untuk terus
menggencarkan prasangka, sembari menemukan sebab-akibat alasan dibalik sikap
Soon Rok.
Belajar
dari sikap Yumi pada Soon Rok, mesti diakui bahwa terkadang kita juga bersikap
seperti Yumi dalam menghadapi hal-hal yang serupa seperti Soon Rok. Salah
satunya saat berhadapan dengan buku nonfiksi.
Pasti Sobat Buku sering bertanya-tanya, kenapa sebagian orang begitu mudah menghabiskan 200-an halaman buku fiksi hanya dalam sekali duduk? Namun, memerlukan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan buku nonfiksi.
![]() |
| sumber gambar dari Tving |
Lantas,
apa hubungan antara membaca buku nonfiksi dan Yumi-Soon Rok?
Bisa
dibilang, hubungan kita dengan buku nonfiksi seumpama Yumi-Soon Rok. Kita
terbiasa bersikap seperti Yumi dengan mengandalkan sisi persepsi yang
dipengaruhi oleh emosi dan suasana hati dalam merespon ketidaknyamanan—bahkan
dalam melihat buku nonfiksi.
Bagi
kita, buku nonfiksi kita seperti Soon Rok yang serba kaku, sulit dimengerti dan
dipahami. Kita beranggapan seperti itu, karena kita menilai buku nonfiksi hanya
dari persepsi indrawi dan emosional. Padahal, Soon Rok kita—buku nonfiksi—harus
dikenali dengan menurunkan prasangka yang kerap kita kibarkan setiap kali
bertemu dengannya.
Bagaimana
cara menepis persepsi dan membangun perspektif dalam melihat buku nonfiksi?
Berikut beberapa langkah yang bisa kita ikuti dari kisah Yumi-Soon Rok untuk
jatuh cinta kepada buku nonfiksi.
1.
Menanggalkan persepsi kalau buku nonfiksi itu berat. Kita mesti membangun niat
dan berani berani mencoba untuk membacanya. Tanpa ini, kita akan mudah terjebak
mood saat menggenggam buku nonfiksi.
2.
Temukan tiga hal paling kuat dibalik alasan membaca buku nonfiksi. Yumi
mengubah persepsinya, saat menyadari kelebihan Soon Rok membantunya menemukan
titik buta dalam tulisannya—yang ia juga tak sadari. Hal yang sama juga berlaku
pada diri kita, karena harus diakui kita pun memiliki titik buta dalam
menafsirkan sesuatu.
3.
Jika Yumi bisa mengenal sisi lain Soon Rok melalui interaksi. Maka, kita juga
perlu mengenal beragam jenis buku nonfiksi. Semakin banyak mengenalnya, kita
jadi tahu kalau buku nonfiksi bisa seasyik itu.
4.
Membuka ruang untuk memperluas zona nyaman. Kita mesti meyakini bahwa membaca
buku nonfiksi sebagai zona nyaman, walaupun berawal dari ketidaknyamanan.
Kadang, rasa tidak nyaman menandakan bahwa kita sedang berproses.
Beberapa
langkah di atas barangkali tak bisa terjadi secara instan dan memerlukan waktu
yang lama. Di sisi lain, Soon Rok mengajarkan kita bahwa orang yang kaku, bukan
berarti tak asyik. Ia memiliki caranya sendiri untuk menghidupkan suasana
hatinya.
Begitu
pun buku nonfiksi yang menuntun kita untuk menemukan apa yang bikin kita merasa
"wow" ala diri sendiri. Soon Rok kita—nonfiksi—seumpama sahabat yang
memandu kita menemukan sisi autentik diri sekaligus membangun ruang otoritas
diri.
Jadi,
jika hari ini kita hanya bisa bersama Soon Rok selama lima atau empat lembar,
jangan dulu pesimis. Pelan-pelan kita berkenalan dengan buku nonfiksi.
Barangkali terasa lamban, tetapi mendalam, karena bisa jadi saat mata kita
menahan kantuk ada segerombolan sel-sel baru yang sedang membangun jembatan
kenyamanan antara diri kita dengan buku.
Jika
Yumi-Soon Rok bisa happy ending, apa hubungan kita dengan buku nonfiksi
juga bisa happy reading? Yuk, bagikan pendapat Sobat Buku di kolom
komentar!
.jpg)

Tidak ada komentar