Forum
Buku Berjalan melaksanakan Temu Buku Online sekaligus menjadi salah satu
dari rangkaian Festival Buku Berjalan yang mengusung tema #bukuberjalanberkelanjutan.
Senada dengan tema yang diusung, acara edisi Bulan Juni ini mengangkat topik
menarik, yaitu "Bukan Sekadar Membaca: Merawat Ekosistem Literasi yang
Berkelanjutan”.
Acara
yang berlangsung secara daring pada Minggu (21/6) menghadirkan Mas Andi Ahmadi,
Ketua Sekolah Literasi Indonesia dan juga Co-founder Forum Buku
Berjalan. Dipandu oleh Kak Rahmah, pengurus Forum Buku Berjalan sekaligus
relawan literasi masyarakat, acara berlangsung seru dan kaya pandangan baru
tentang kemampuan literasi.
Dalam
pemaparannya, Mas Andi menegaskan bahwa pengalaman membaca berkontribusi besar bagi
pembaca dan lingkungannya. Menurutnya, membaca buku bukan sekadar aktivitas
pasif, melainkan juga turut bertransformasi sebagai sebuah medium penggerak mewujudkan
ekosistem yang berkelanjutan.
Bagi
Mas Andi, pengalaman membaca menjadi pintu masuk mengakses pengetahuan,
sekaligus memperluas kemampuan literasi tiap individu. Membaca tak hanya
sebatas memahami teks, tetapi juga menghubungkan bacaan dengan realitas di
sekitar kita. Ia menjelaskan kemampuan literasi adalah kemampuan dalam
mengakses, memahami, menilai, dan menggunakan informasi untuk membuat keputusan
yang lebih baik dalam kehidupan.
Barangkali Sobat Buku akan bertanya-tanya, mengapa kemampuan literasi bisa sekompleks itu? Jawabannya karena aktivitas membaca mendorong kita untuk tak hanya sebatas tahu, tetapi juga memancing rasa penasaran di balik informasi yang diperoleh. Semakin rasa ingin tahu membesar, kita berpeluang untuk naik level.
Kira-Kira,
Sejauh Mana Level Membaca Kita?
Menurut
Mas Andi, output dari pengalaman membaca setiap orang bisa berbeda-beda berdasarkan
level membaca kita. Baginya, literasi merupakan medium untuk naik dari sekadar
membaca buku, menjadi upaya meningkatkan kualitas diri. Tahap ini, kita tak
hanya menjadi tahu, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis, memverifikasi
informasi yang diperoleh, menemukan solusi, dan berkolaborasi.
Dalam Temu
Buku Online tersebut, Mas Andi membagikan ada lima level pengalaman
membaca:
· Level 1:
Dari tidak tahu menjadi tahu
· Level 2:
Dari tahu menjadi paham
· Level 3:
Dari paham menjadi kritis
· Level 4:
Dari kritis menjadi karya. Misalnya, tulisan, ide, inovasi, dan solusi
· Level 5:
Dari berkarya menjadi berdampak. Di level ini, pengetahuan digunakan untuk membantu
orang lain, menyelesaikan masalah, dan memberdayakan masyarakat.
Saat memaparkannya, Mas Andi juga mengenalkan salah satu anak muda bernama Aeshnina Aqilani—seorang pegiat lingkungan—yang melalui pengalaman membacanya, Aeshnina tergerak untuk mengamati dan mempelajari persoalan sampah yang terjadi di sekitarnya. Melalui kiprah Aeshnina, Mas Andi kembali menegaskan bahwa aktivitas membaca tak hanya hadir sebagai kebutuhan pribadi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan.
Cara
Menaikkan Level Kemampuan Literasi
Menurut
Mas Andi, level satu menjadi langkah awal untuk menaikkan level literasi. Kita
membaca buku untuk tahu, secara tidak langsung mendorong kita konsisten membaca
buku hingga selesai. Di level dua, kita tak sebatas membaca apa yang tersurat,
tetapi juga perlahan memahami informasi tersebut. Hal ini akan memicu beragam
pertanyaan di benak kita.
Pertanyaan
yang hadir tersebut mengindikasikan kita telah naik ke level tiga. Di level
ini, kita berusaha mengajukan pertanyaan dan berusaha menghubungkan
sebab-akibat dari informasi tersebut. Kita tak hanya menyerap, tetapi juga
secara aktif membedah informasi dengan mengulik referensi di luar buku untuk memperkuat
sisi validnya.
Level empat
menjadi salah satu level yang menjadi titik balik bagi pembaca. Di level ini,
pembaca tak lagi di posisi penyerap informasi, tetapi juga telah memiliki
kerangka pemikiran dan informasi yang bertransformasi menjadi karya.
Berawal
dari karya menuju berdampak, itulah yang dirasakan oleh sebagian orang saat
membaca berbagai konten seputar literasi. Di level empat, kita melihat langsung
pengaruh karya terhadap dampak yang ditimbulkannya. Misalnya, konten tentang
satu hari satu halaman menginspirasi orang-orang untuk memulai membaca buku. Dampaknya,
pembaca akhirnya percaya diri untuk terus membaca, saat sebelumnya tak yakin
bisa menjaga kebiasaan tersebut.
Karya
yang berdampak telah satu tingkat naik ke level lima. Menurut Mas Andi, ketika
karya telah berdampak, tugas kita tak selesai di situ. Sebaliknya, kita perlu
terus belajar banyak hal baru untuk bertumbuh. Mempelajari hal baru untuk
mempertahankan dampak yang dihasilkan, sekaligus membangun sistem yang
bermanfaat bagi orang lain.
Lima
level kemampuan literasi yang dinyatakan oleh Mas Andi mengingatkan kita bahwa
literasi adalah kemampuan yang dibutuhkan oleh semua orang. Sebab, pembaca
adalah penggerak bagi perubahan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Dalam konteks
ini, membaca buku tak hanya berhenti di kita, tetapi juga menyebar kepada
masyarakat melalui karya yang lahir dari pengalaman membaca.
Mari bergerak bersama melalui membaca buku menuju ekosistem berkelanjutan! Setiap pembaca adalah penggerak perubahan bagi dirinya dan lingkungannya. Yuk, bagikan pengalaman membaca Sobat Buku di kolom komentar.


.png)

Tidak ada komentar