Love Yourself: Bertumbuh Bersama Pengalaman Emosional

Share:


Acara Bicara Buku edisi pekan ke II pada Senin (13/7) dibuka dengan pertanyaan Kak Rahmah selaku pengulas kepada para anggota FBB dengan menyebut dua judul buku, yang barangkali telah dibaca oleh sebagian dari mereka. Dua buku tersebut yaitu Pulih dari Trauma dan Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ.

Dua buku yang disebutkan di atas, ada satu karya penulis berjudul Love Yourself yang membahas tentang cara untuk berdamai dan mencintai diri sendiri. Menurut Kak Rahmah, buku ini fokus menitikberatkan menerima pengalaman emosional sebagai cara menemukan diri. Selain itu, buku ini terbilang unik dari segi penampilan. Tak hanya menawarkan visual, tetapi juga didukung kualitas kertas yang bagus dengan harga terjangkau. Terutama isi halaman dari buku ini didominasi oleh warna putih dan ungu.

Hal Menarik dari Buku Love Yourself

Ada satu hal yang mencuri perhatian Kak Rahmah dalam buku ini. Bukan hanya karena menyajikan esai pendek berisi penyemangat hidup, tetapi juga mengajak pembaca untuk sejenak merasakan apa yang ditulis oleh penulis. Salah satunya kalimat berbunyi, “Semakin Melupakan, Semakin Ingat.”

Hal ini memantik Kak Rahmah untuk menuturkannya secara jelas, “Coba ingat cara kita melupakan kunci kendaraan: apakah dengan berusaha mengingat dengan keras atau justru dengan menjadi biasa saja (ah, nanti ketemu juga. Dan beneran ketemu setelahnya)?”

Ia juga menjelaskan bahwa ternyata memang ada penelitian ilmiah mengenai fenomena di balik peristiwa yang sulit dilupakan oleh seseorang, memicu daya ingat tentang peristiwa tersebut. Senada dengan itu, penulis mengingatkan pembaca untuk tidak mesti segera melupakan sesuatu yang dirasakan, tetapi perlu dilepas secara perlahan.

Sumber gambar dari Kak Rahmah

Bagi Kak Rahmah, buku ini memberi ruang bagi siapa pun untuk menanyakan pada diri sendiri tentang hal-hal yang selama ini masih kerap diingat. Terlebih, setiap orang memiliki waktu berbeda-beda untuk lupa, dan melepas hal-hal yang dekat dan bernilai bagi diri mereka.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, “Kenapa saat ini kita masih ingat? Ya, karena menganggap itu masih penting! Artinya, pembelajaran akan memori tersebut belum usai. Kehidupan mungkin ingin membeberkan pesan lewat kejadian tersebut. Sebab, kita mungkin sedang diminta belajar melampaui rasa sakit.”

Di sisi lain pengalaman personal Kak Rahmah yang relevan dengan isi buku ini, membuatnya mengungkapkan bahwa untuk melupakan sesuatu, kita tak hanya mendekatkan diri pada Tuhan. Lebih dari itu, kita juga perlu memberi kesempatan bagi diri untuk melakukan 3M: menulis, menangis, dan memaafkan emosi negatif yang ada di dalam diri. Baginya, itulah resep yang ia terapkan saat berada dalam kondisi yang tak sedang baik-baik saja.

Apalagi emosi negatif yang dipicu oleh pikiran. Nyatanya, hal-hal yang ditakutkan dan dicemaskan oleh kita mendatangkan derita yang hadir di pikiran, bukan di realitas nyata. Sebab, pikiran kita adalah persepsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.  Maka dari itu, kita perlu untuk melatih pikiran untuk tetap berpikir positif.

Sumber gambar dari Kak Rahmah

Acara Bicara Buku tersebut juga menyebutkan, pengalaman menangis sebagai aktivitas fisik dan emosional yang mesti dinormalisasi bagi perempuan maupun laki-laki untuk meluapkan emosi. Dalam konteks ini, menangis bukan sesuatu yang aneh—terlebih bagi laki-laki. Setiap orang berhak menangis untuk menenangkan diri.

Secara keseluruhan, buku ini seumpama sahabat yang sedang berbagi nasihat kepada pembaca yang kerap meragukan diri sendiri. Namun, keraguan tersebut timbul dari kekurangan diri bukan menjadi alasan untuk menghakimi dan menghukum diri dengan pikiran negatif. Setiap manusia memiliki kekurangan, tetapi bukan berarti mereka tak berharga.

Sobat Buku, siapa pun kita, di mana pun berada, kita tetap berharga dan istimewa dengan segala kekurangan yang dimiliki. Jika hari ini kita merasa lelah menghadapi dunia, tak apa-apa. Itu hal yang normal. Namun, jangan biarkan itu mengambil alih diri kita untuk menghadapi dunia dengan optimis.

Sebagaimana judul buku ini, sudahkah Sobat Buku mencintai diri sendiri? Yuk, bagikan pengalaman dalam proses mencintai diri sendiri di kolom komentar.

Tidak ada komentar