Bagi seorang bookstagrammer, salah satu momen yang dinantikan adalah melangkah keluar dari zona nyaman kamar baca dan bertemu dengan para manusia yang memiliki frekuensi serupa. Setiap sebulan sekali, saya mewakili Forum Buku Berjalan mengadakan kegiatan Temu Buku. Berhubung domisili saya di Bogor, jadi saya mengadakan untuk chapter tersebut.
Saat itu bulan Mei 2026, saya dan tim kembali mengadakan kegiatan Temu Buku. Saya sudah membayangkan betapa serunya bertukar pikiran tentang buku favorit, dan saling bertukar fisik buku.
Di dalam tas, telah rapi berjajar satu novel dan satu buku nonfiksi tebal yang akan saya baca dan tukar. Namun, sebuah plot twist yang tidak menyenangkan justru mengintai di paruh pertama perjalanan!
Saat Gejala "SePeLe" Datang Tanpa Diundang
Saat kegiatan berlangsung, saya khidmat membaca buku. Tangan kanan sibuk membalik halaman demi halaman novel yang sedang seru-serunya. Saya begitu fokus, tenggelam dalam dunia fiksi selama berjam-jam tanpa jeda. Ada sekitar delapan orang lainnya melakukan hal yang sama.
Tepat ketika saya mengalihkan pandangan, mata saya mendadak terasa SEpet, sangat PErih, dan luar biasa LElah. Sensasinya seperti ada kerikil tidak kasat mata yang mengganjal di balik kelopak mata. Ketika saya mencoba mengerjapkan mata, rasa perihnya makin tajam hingga memicu air mata keluar secara refleks. Gejala mata kering ini benar-benar datang di waktu yang paling salah.
Bagaimana Mata Kering Mengubah Jalannya Momen Penting
Gejala yang awalnya saya anggap sepele ini ternyata mengubah jalannyalegiatan saya saat itu. Alih-alih menikmati dan antusias, saya justru sibuk menahan rasa tidak nyaman, padahal saat itu saya menjadi MC. Pandangan saya menjadi agak kabur akibat mata yang terus berair.
Mau tak mau saya berbicara sambil mengucek-ngucek mata. Tak berhenti di situ sesi diskusi buku saya percepat, rundown jadi kacau!
Saya tidak bisa fokus menyimak materi karena otot mata terasa sangat tegang dan lelah. Momen yang tiap bulan sayanantilan l ini nyaris berubah menjadi memori yang ingin cepat-cepat saya lompati.
Pelajaran dari Perjalanan & Tips Mengatasi Mata Kering
Dari pengalaman pahit di kereta malam itu, saya belajar satu hal penting: terlalu fokus membaca buku fisik maupun digital di ruangan ber-AC dalam durasi lama adalah kombinasi sempurna pemicu sindrom mata kering. Saat kita terlalu fokus, frekuensi berkedip kita berkurang drastis dari normalnya, sehingga lapisan air mata menguap tanpa sempat terlumasi kembali.
Sebagai sesama pencinta buku, berikut adalah beberapa tips praktis (saveable) yang wajib kamu terapkan agar hobimu tidak merusak kesehatan matamu:
1. Patuhi Rule Aturan 20-20-20
Setiap 20 menit menatap buku atau layar, alihkan pandangan untuk melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Ini efektif merelaksasi otot mata yang tegang.
2. Berkedip dengan Sengaja
Jangan lupa untuk berkedip secara sadar dan penuh saat membaca. Berkedip adalah cara alami tubuh untuk memproduksi dan meratakan kembali lapisan air mata.
3. Hindari Embusan AC Langsung
Saat berada di ruangan bee-AC, pastikan arah embusan angin AC tidak langsung mengenai wajahmu karena akan mempercepat penguapan kelembapan mata.
4. Gunakan Kompres Hangat
Jika mata sudah terlanjur sangat lelah setelah reading marathon, pejamkan mata lalu tempelkan kain hangat selama 5-10 menit untuk melancarkan kelenjar air mata.
Menemukan Penyelamat: Pengalaman Bersama Insto Dry Eyes
Melihat saya berkali-kali mengucek mata dengan frustrasi, seorang teman sesama kolektor buku langsung menahan tangan saya. "Jangan dikucek, nanti makin iritasi. Ini tanda mata kering karena kamu kurang berkedip semalaman," ujarnya sambil menyodorkan sebuah botol kecil dengan kemasan biru yang familier: Insto Dry Eyes.
Ia menjelaskan bahwa untuk mengatasi gejala mata sepet, perih, dan lelah (SePeLe), mata kita membutuhkan cairan pelumas buatan yang aman. Tanpa ragu, saya langsung meneteskan 1-2 tetes Insto Dry Eyes ke kedua mata.
Rasanya seperti ada kesegaran instan yang mengalir! Formula hydroxypropyl methylcellulose di dalamnya bekerja dengan sangat lembut, memberikan kelembapan instan yang menyerupai air mata alami kita. Rasa perih yang membakar dan sensasi sepet yang mengganjal langsung reda dalam hitungan detik. Pandangan saya kembali jernih, dan rasa lelah di mata seolah menguap begitu saja.
Apakah kamu sering mengalami mata SePeLe saat asyik membaca atau melakukan perjalanan jauh? Bagikan artikel ini ke teman-teman klub bacamu agar mereka juga tahu cara mengatasinya!
Tidak ada komentar