![]() |
Dalam hidup, pasti setiap orang pernah merasakan kekecewaan. Entah yang disebabkan oleh diri sendiri maupun juga orang lain. Namun, apa jadinya jika kekecewaan itu malah berubah menjadi bagian mendasar dari pandangan hidup kita dalam melihat hidup? Bukan hanya menjadi pandangan hidup, tetapi juga alasan dibalik ‘cara’ kita bersikap dalam menghadapi hidup itu sendiri tanpa pernah disadari.
Secara tidak langsung, kita tak lagi
bisa melihat dunia secara objektif, tetapi dibentuk oleh narasi pengalaman
emosional yang tak selesai dikelola oleh diri sendiri. Lantas, adakah cara
untuk mengurai kekecewaan tersebut?
Melalui Bicara Buku yang digelar pada Jumat (29/08/2025), dipandu oleh Zaitun Bening mendiskusikan buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Selanjutnya karya dr. Andreas Kurniawal, Sp. KJ, yang diulas oleh Kak Yunie, seorang bookstagramer. Sebuah buku yang menarasikan cara menghadapi kepelikan yang lahir dari pengalaman emosional.
Identitas Buku
Judul: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi
Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya
Penulis: dr.Andreas Kurniawan, Sp.Kj
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul: Withly
Cetakan ke-4 Februari 2025
ISBN 978-602-06-8127-6
202 halaman
Blurb
Jawab dengan cepat: Seandainya terlahir
kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa? Berikut beberapa
jawaban unik yang pernah kudengar baik dalam ruang praktik maupun ketika
ngobrol santai dengan teman-teman:
“Aku ingin menjadi ubur-ubur, melayang
bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial.”
“Aku ingin menjadi pohon pinus, karena
tinggi dan keren.”
“Aku ingin menjadi ikan mas koki.
Katanya memorinya cuma bertahan lima detik, jadi aku tidak akan overthinking.”
Suatu hari, seorang pasien perempuan
mengatakan bahwa ia ingin ter lahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar
sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. "Aku
ingin menjadi pohon semangka di kehidupan berikutnya Kehidupan seperti apa yang
dia alami sampai berpikir lebih baik menjadi pohon semangka?
Ini adalah buku tentang kekecewaan,
penyesalan, dan ketidaksempurnaan. Buku ini cocok untuk kalian yang sering
dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi minimarket di akhir hari,
yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti
dari kata kebahagiaan.
Mengenal Lebih Dekat Buku Seorang Wanita
Yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Selanjutnya
Selaku Pengulas buku Seorang Wanita yang
Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Selanjutnya, Kak Yuni berbagi
pengalamannya dalam membaca buku ini. Menurutnya, bila buku pertama penulis
yang berjudul Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring berbagi
tentang kedukaan dan bagaimana berproses melalui kedukaan secara sehat. Maka,
pada buku kedua ini, penulis membahas tentang kekecewaan, penyesalan, dan
ketidaksempurnaan dalam menjalani hidup sebagai seorang manusia.
Buku ini cocok dibaca bagi mereka yang kerapkali dituduh kurang bersyukur, maupun pembaca yang sedang meraba-raba kondisi diri sendiri. Dalam arti ini, situasi yang lahir dari kerumitan pikiran yang kerapkali memojokkan diri sendiri dalam memaknai interaksi yang terjadi di keseharian. Terutama bagi kawula muda yang masih bergumul dengan makna hidup, sekaligus mengejar arti kebahagiaan.
Menurut Kak Yuni, buku ini mengajak pembaca
untuk merefleksikan hidup yang sedang dijalani melalui setiap bab yang
disajikan dalam buku ini. Dari total sebelas bab, ada dua bab yang secara
pribadi berkesan baginya. Yakni dalam bab dua berjudul Manusia dan Narasinya, serta
bab empat yang berjudul Kebahagiaan dalam Tiga Kata.
Sedari awal, buku ini telah menyodorkan
satu pertanyaan yang tersaji dalam bab pertama berjudul Surat Ajaib dari Masa
Depan. Bagi Kak Yuni, pertanyaan tersebut bukan hanya memancing seseorang untuk
berpikir, tapi juga merefleksikan apa yang akan terjadi dalam hidup jika
seseorang mengalami kematian. Sebagaimana yang diceritakan oleh dr. Andreas,
bahwa ada seorang temannya yang suka protes dan berkonflik. Suatu hari,
temannya mengalami kecelakaan mobil dan nyaris mati. Sejak kejadian tersebut,
temannya tidak lagi memikirkan segala omongan yang dilontarkan oleh orang-orang
yang nggak berprinsip.
Kejadian tersebut telah menyadarkan
temannya, bahwa hidup itu singkat dan tak membuang-buang waktu dan energi untuk
meributkan hal-hal yang bukan prioritas dalam hidup. Bukankah hidup terasa
merugi? Jika hanya memikirkan omongan, maupun pikiran negatif tentang
orangorang yang kerapkali mengundang kekesalan di atas kepala.
Selain berbagi pelajaran hidup dari pengalaman temannya, dr. Andreas yang juga merupakan seorang penggemar Doraemon, kerapkali menyajikan ilustrasi dan metafora dalam buku ini yang berkaitan dengan Doraemon. Tentu hal ini membuat pembaca merasa lebih akrab dengan buku ini, karena relevan secara pengalaman personal pembaca yang sebagian besar menyukai anime tersebut.
Hal Apa yang dipelajari dalam Buku
Seorang Wanita Yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Selanjutnya?
Pengalaman seorang teman yang
diceritakan oleh dr. Andreas, berhasil memantik rasa ingin tahu Kak Yuni,
hingga membuatnya menemukan sebuah jurnal yang membahas tentang 7 menit setelah
kematian. Menurutnya, ternyata, saat jantung berhenti berdetak, otak manusia masih
terpindai ada aktivitas selama 7 menit yang menandakan seperti sedang mimpi
atau membayangkan hal-hal atau juga memori terindah yang dimiliki oleh manusia.
Maka, jangan biarkan hidup yang dijalani dengan penyesalan kelak, karena
terlalu banyak terjebak dalam setiap pilihan keliru dan keputusan negatif yang
hadir dalam diri.
Keputusan negatif maupun keliru
kerapkali bersumber dari narasi seseorang itu sendiri. Dalam bab dua yang
membahas tentang narasi, Kak Yuni menyebutkan bahwa narasi merupakan kunci
keselarasan emosi dan tindakan. Narasi unik itu dimiliki oleh setiap orang
berdasarkan versi mereka masing-masing. Lanjut Kak Yuni, bagi yang sering
menyambangi minimarket, tak lagi asing dengan dengan bangku besi yang
disediakan.
Menurutnya, ada sindiran mengungkapkan
bahwa kalau pergi ke psikolog/psikiater itu mahal. Jadi, penggantinya dengan duduk
di kursi besi minimarket. Hal ini menjadi sebuah sindiran yang bisa diterapkan,
karena darurat kesehatan mental yang terjadi di era serba instan seperti
sekarang ini. Era Dimana, segala hal melaju cepat tanpa memberi jeda bagi
manusia untuk benar-benar merasakan kehadiran dirinya sendiri di realitas
hidup.
Buku ini memberi kesempatan untuk
sejenak bagi diri sendiri. Sebab sejujurnya, setiap orang butuh slowing down
atau melambat sedikit dengan memberi waktu untuk diri merefleksikan hidup dari
kedalaman batin. Mengambil waktu untuk merenung, bukan hanya membantu diri
sendiri tetapi juga menapaki perjalanan hidup yang telah dilalui. Bukan hanya
memberi diri sebuah makna, tetapi menjaga diri tetap waras dengan mengambil
jarak dari hiruk-pikuk dunia yang kerapkali mengasingkan diri sendiri.
Selain itu, melalui perenungan tersebut,
kita lebih mudah mencermati dan mengamati setiap narasi yang diputuskan oleh
pikiran diri sendiri. Merenung bukan hanya bikin kita mengubah narasi yang
sebelumnya negatif menjadi positif, tetapi juga turut mengubah cara berpikir
seseorang dalam menyikapi interaksi yang terjadi dengan sudut pandang yang
berimbang dan utuh.
Percayalah, setiap pikiran, ucapan
maupun tindakan yang tergesa-gesa hanya berdasar pengetahuan dan pengalaan yang
terbatas bukan hanya berefek negatif pada orang lain, tetapi juga pada diri
sendiri. Maka, setiap orang membutuhkan rasa empati. Sebuah empati yang lahir
dari keterhubungan dengan orang lain akan melahirkan resonasi secara kognitif.
Kak Yuni mengungkapkan bahwa, saat
seseorang mengalami resonansi dan merasa relate sama sesuatu atau
seseorang, akan membuat kita dikuatkan secara mental dan emosi. Namun, masalah
saat disonansi yang terjadi, seseorang bisa terpantik dengan emosi negatif yang
ada dalam diri. Lantas, bagaimana mengurai emosi negatif itu?
Pertama, mengubah narasi diri sendiri terhadap
orang lain.
Kedua, memberi jeda bagi diri untuk refleksi dan mengevaluasi
segala sesuatu dengan kepala yang dingin.
Keempat, rutin menjurnal bisa menjaga kita
untuk tetap sadar akan alur pikir kita.
Kelima, rutin melakukan kegiatan yg slowing down seperti
menanam, maupun juga menghubungkan diri dengan aktivitas fisik yang kita sukai.
Itulah yang dipelajari oleh Kak Yuni dari buku ini, walaupun tak menggambarkan keseluruhan isi buku tersebut. Diskusi buku ditutup dengan Kutipan Socrates yang dikutip olehnya, “Hidup yang tidak dievaluasi adalah hidup yang tidak layak dihidupi.”
Bagus banget artikelnya💕
BalasHapus