Buku Berbenah Jadi Duit: Berbenah Dari Barang Menuju Pikiran

Share:

 

Sobat Buku, sejauh ini pernahkah mencoba untuk berbenah barang-barang kesayangan kita yang menumpuk di atas meja maupun lemari? Nah, kepikiran nggak kalau barang-barang hasil berbenah bisa menghasilkan duit? Ternyata, bisa, loh!

Kok, bisa? Nah, Saat Bicara Buku perdana Bulan Februari, Senin (2/2/26), Kak Rahmah membagikan pengalaman membacanya tentang buku berjudul Berbenah jadi Duit karya Yoon Sun-Hyun. Buku yang telah dicetak tiga kali oleh Bhuana Ilmu Populer pada tahun 2022 ini berjumlah 273 halaman.

Funfact, menurut Kak Rahmah, sepertiga buku ini berwarna. Barangkali ini cara penulis untuk menularkan semangat kepada para pembacanya, sehingga memilih warna yang cukup mencolok. Yaps, warna jingga seperti warna sampul buku ini.

Hal Menarik dari Buku Ini

Jika selama ini anggapan berbenah sebagai aktivitas yang melelahkan, buku menawarkan sudut pandang baru. Bahkan, bisa dibilang melalui buku ini, Sobat Buku akan percaya kalau kebiasaan berbenah secara rutin bisa menghasilkan duit. Terus gimana caranya? Dimulai dari membenahi isi dompet kita.

Kak Rahmah mengungkapkan bahwa saat kita sedikit memiliki uang, bukan karena penghasilan kita sedikit. Namun, kita mudah begitu saja menggunakan uang untuk hal-hal kecil tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Benar, kan?

Buku ini menjelaskan kalau ingin memperbanyak kekayaan, sejatinya dengan hanya memiliki sedikit barang. Hal ini mengingatkan Kak Rahmah tentang ungkapan, “Jangan abaikan uang receh,”Tutup lubang pengeluaran,” atau “Kendalikan kebiasaan konsumsi.”

Ia menuturkan kalau ungkapan tersebut mengandung pengingat untuk bijak dalam menggunakan uang. Menurutnya, sebagian orang memang gemar cuci mata dan ujung-ujungnya membeli barang secara impulsif. 

Kadang, salah satu kebiasaan penting berupa mencatat jumlah uang yang masuk, hingga mencatat pengeluaran secara rinci sering diabaikan. Selain itu, mencatat rincian pengeluaran membantu kita untuk mengevaluasi pengeluaran yang diperlukan.

Dalam setiap pembahasan dalam buku ini, ada beberapa kolom tanya-jawab yang berisi refleksi bagi pembaca. Menarik, kan?

sumber gambar dari Kak Rahmah

Tips Berbenah ala Buku Berbenah Jadi Duit

Ada satu catatan penting yang kerapkali tak disadari oleh kita, bahwa berbenah tak hanya berkutat pada barang-barang bekas, ataupun yang tak berguna lagi. Buku ini menegaskan berbenah meliputi semua aspek kehidupan kita. Antaranya, bagaimana membenahi waktu, berbenah isi dompet, menata kulkas dan lemari, terlebih membenahi sudut pandang kita terhadap suatu barang.

sumber gambar dari Kak Rahmah

Bagaimana menilai barang yang akan disimpan dan yang akan dibuang berdasarkan debaran saat menyentuhnya. Dengan dasar perasaan seperti ini, kita akan bisa menilai lebih cepat,” ungkap Kak Rahmah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau buku ini memberikan tips untuk mencoba cara berbenah tiga detik. Apa itu? yaitu memutuskan suatu barang akan dibuang atau tidak dengan menyentuhnya selama tiga detik.

Menurutnya, jika kita terlambat memutuskan, berarti kemungkinan barang tersebut adalah sampah yang tidak memberikan perasaan apa pun. “Perasaan bukanlah sesuatu yang harus dipikir lama. Makin kita ingin mempertimbangkannya, makin cepat seharusnya kita putuskan. Makin lama kita berpikir, makin banyak alasan yang kita buat untuk tidak membuangnya,” jelas Kak Rahmah.

sumber gambar dari Kak Rahmah

Selain itu, cara menata lemari juga dijelaskan dengan disertai gambar yang relevan. Ini tentu bisa mempermudah Sobat Buku. Nah, cara merapikan isi kulkas juga ada ilmunya. Sebagaimana diungkapkannya, “Caranya menatanya berdasarkan frekuensi penggunaan. Bagian paling atas untuk makanan yang harus segera dimakan, sedangkan bagian tengah untuk makanan yang sering diambil untuk dimakan agar mudah diraih.”

Hal yang menarik, menata kamar juga memiliki seni tersendiri. Seperti dijelaskan di dalam buku bahwa kamar yang menghadap ke utara bagus karena selalu terang dan sinar matahari tidak masuk secara langsung.

Ahli metode belajar, Min Sung-won mengatakan, “Bila suhu ruangan lebih dari 21°C, suplai oksigen biasanya akan berkurang sehingga kinerja otak perlahan-lahan akan menurun yang berdampak buruk pada daya konsentrasi.” Jika tidak ada kamar yang menghadap ke utara, maka letakkan meja belajar di sebelah utara.

Kenapa Harus Membaca Buku Ini?

Menurut Kak Rahmah, buku ini tak hanya bagus, tapi juga membantu kita dalam menata ulang hidup. Satu hal yang paling mengena dari buku ini, yakni di halaman 189, menguraikan bahwa penulis buku Rich Habits: The Daily Success Habits of Wealthy Individuals, Thomas C. Corley, pernah melakukan riset tentang kebiasaan terhadap 223 orang kaya dan 128 orang miskin.

Hasilnya, orang kaya yang menjawab membaca buku 30 menit lebih setiap hari sekitar 88%, sedangkan orang miskin hanya 2%.

Melalui halaman tersebut, ia menegaskan bahwa hidup kita terbentuk dari setiap pilihan yang akan kita kerjakan. Mana yang antara orang yang membiarkan waktu berlalu begitu saja dengan orang yang membaca buku, mana yang lebih tinggi kemungkinannya untuk menjadi orang kaya?

Pengujung Bicara Buku, Kak Rahmah membagikan dua ungkapan yang diletakkan penulis di bagian akhir bab dalam buku ini:

Agar bisa hidup dengan elegan dan berkelas, barang-barang di rumah kita haruslah sesedikit mungkin. Makin banyak barang, makin bermunculan barang yang harus dibereskan, seperti cucian piring yang menumpuk dan debu yang harus dilap. Akhirnya, pekerjaan rumah pun kian bertambah.”

“Angsa putih dapat mengapung dengan anggun di atas air karena kakinya bergerak tanpa henti di bawah air. Jika ingin hidup dengan anggun, kita pun harus rajin menggerakkan tubuh kita.” (Halaman 213)

Buku ini tak hanya membantu kita untuk menilai suatu barang, tapi juga membantu kita untuk rajin merawat apa yang telah kita miliki. Sobat Buku, tertarik membaca buku ini? Yuk, bagikan di kolom komentar!


Tidak ada komentar